Kategori
pendampingan

Agenda Pendampingan dan Pelatihan di Bulan Maret

Agenda Pendampingan dan Pelatihan di Bulan Maret
Agenda Pendampingan dan Pelatihan di Bulan Maret

Semoga tidak bikin ruwet karena akan banyak Agenda Pendampingan dan Pelatihan di Bulan Maret. Setidaknya, akan ada dua titik kecamatan di Kabupaten Bandung yang harus saya bersama Kiosagro dampingi pada bulan 3 tahun ini.

Dan yang sudah tercatat agendanya jauh-jauh hari, secara pribadi saya sudah melingkari tanggal, 5, 7 dan 8 Maret 2020.

✔ 5 Maret saya mengisi kelas di RKB jalan Jurang.

✔ 7 Maret saya bersama dengan tim (Kiosagro) mengisi workshop Bisnis Kreatif di Era Digital.

✔ 8 Maret saya mengisi kelas rutin Gapura Digital di Hotel Savoy Homann, The Palace Room lantai 1.

Yang saya sangat harapkan adalah kesehatan. Karena, gini… Bolehlah kita memiliki agenda kegiatan yang padat dan kita sanggup melakukan semuanya. Lalu, kalau lantas kita sakit? Apa masih bisa memenuhinya? Yang ada kita harus beristirahat sampai benar-benar kembali sehat.

Ilustrasi Kang Ade saat mengisi kelas. (foto ini diambil saat launching Kiosagro di Hotel Patra Dago pada 20 Mei 2019 sekaligus buka puasa bersama para blogger Bandung)
Ilustrasi saya saat mengisi kelas. (foto ini diambil saat launching Kiosagro di Hotel Patra Dago pada 20 Mei 2019 sekaligus buka puasa bersama para blogger Bandung)

Jadi … Pembaca, bantu doakan saya ya? Semoga Tuhan senantiasa memberi saya kekuatan dalam menjalani kegiatan setiap hari. Dan semoga Maret 2020 menjadi bulan yang penuh keberkahan bagi saya khususnya dan umumnya buat semua yang membaca tulisan ini. 💯

Kategori
pengalaman

Kebiasaan Jelek yang Saya Sesalkan, Pelupa.

Saya pelupa untuk beberapa hal. Yang paling menonjol dari kebiasaan jelek yang saya sesalkan ini adalah lupa mengambil kacamata setelah ditaruh. Yang paling mutakhir, saat Kiosagro mengikuti pameran di Sabuga (Sasana Budaya Ganesha).

Waktu itu hari sudah petang, dan sudah waktunya menunaikan ibadah shalat Ashar. Seperti biasa, setiap orang menuju mushala yang berada di ujung bangunan gedung yang dibangun pada 1997 ini. Pun dengan saya, saya beranjak dari booth pameran ke tempat shalat.

Sampai hari ini saya masih ingat di mana saya meletakkan kacamata, yaitu tepat di atas tembok atasnya keran untuk berwudhu. Sambil saya taruh kacamata – saya berkata dalam hati, usai abdas jangan sampai lupa untuk kembali mengambilnya.

Lalu saya shalat 4 rakaat setalah itu langsung kembali ke booth pameran. Sambil duduk di sana, saya merasa ada yang kurang, oh ok … Kacamata! Saya pun kembali ke mushala dan menuju tempat di mana kacamata saya letakkan. Tapi ternyata … raib!

Bukan soal kacamatanya bernilai atau berharga mahal saat dibeli (ada sih rasa itu, nggak juga saya pungkiri) namun yang saya sesalkan, kenapa ini bisa kejadian lagi dan lagi?

Berbicara lagi dan lagi … Sudah 10 kali saya kehilangan kacamata yang rata-rata terjadi karena kelalaian yang sama … Lupa Naruh!

Ketiga kacamata yang saya kenakan pada masing-masing foto di atas sudah entah disimpan atau diinjak orang … Entah -_-

Kategori
buku CERITA LAMA

Pidi Baiq Bandung 10 Juli 2015

Itu yang membekas dalam halaman dua setelah sampul buku dia adalah dilan tahun 1991, Dilan #2. Waktu itu pula saya untuk pertama kalinya bertemu dengan Surayah — panggilan lain untuk seorang Pidi Baiq. Selengkapnya dari apa yang dituliskan oleh seniman Bandung ini yaitu sebagai berikut.

Buat Adetruna, lalu dia menandatangani lalu menulis Pidi Baiq Bandung 10 Juli 2015.

Buat Adetruna Pidi Baiq Bandung 10 Juli 2015 Tanda tangan Buku Dilan #2 Dia Adalah Dilanku Tahun 1991

Buku Dilan #2 ~ Dia Adalah Dilanku tahun 1991 yang bertandatangan asli Pidi Baiq ini fisiknya ada di anak saya yang sulung, Salmanita. Dia kerap membacanya walaupun sudah beberapa kali khatam — kayaknya.

Oh ya … Selain buku, saya pun memiliki kaos resmi dari buku ini. Karena, saat launching bukunya — saya termasuk blogger yang diundang untuk menyaksikan talkshow serta sekaligus soft launching buku Dilan #2 tersebut. Panitia penyelenggara acara, yaitu Pastels Book – menyisipkan kaos sebagai “buah tangan” untuk dibawa pulang di dalam goodie bag. Dan kalau tidak salah, waktu itu bersamaan dengan bulan puasa (Ramadan 1436 H.) yang acaranya bertempat di Rumah The Panas Dalam bilangan jalan Ambon No. 8, Bandung.

Mizan yang berperan sebagai distributor buku Dilan #2, melalui editor in chief-nya, Benny Ramdhani, berkesempatan menjelaskan perihal diterbitkannya buku yang terbukti digandrungi pembaca semua kalangan ini (padahal Pidi Baiq mengakui buku barunya ini bergenre teenLit).

Saya sempat pula mengabadikan momentum ini yang saya tayangkan lewat akun Youtube istri saya, Risya.

Pidi Baiq alias Surayah Buka Bukaan tentang Karakter Dilan. Waktu itu, Pidi Baiq melakukan talk show ditemani Iyang Darmawan dan juga Kang Koyang.

Itulah Cerita Lama yang bisa saya share di sini … Semoga suka 🙂